ARTIKELOase Ramadhan7 Ciri Orang Yang Sukses Berpuasa
Allah mewajibkan orang-orang yang beriman untuk menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan sebagaimana terkandung dalam surat Al Baqarah:183, memiliki tujuan yang jelas, yakni untuk menjadi hamba yang bertaqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”
Jika seorang musafir sukses menempuh jalan yang dilaluinya, maka ia akan sampai di kota tujuan. Demikian pula, jika seorang yang beriman sukses dalam menjalankan ibadah puasa, maka ia akan sampai pada tujuan puasa itu, yakni menjadi hamba yang bertaqwa. Orang yang bertaqwa (takut kepada Allah SWT) teraplikasi dalam diri seseorang dengan mengerjakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.
Orang yang beriman adalah orang yang takut kepada Allah dengan seluruh anggota badannya. Sebagaimana dikatakan oleh Al Faqih Abul Layts, bahwa tanda ketakutan kepada Allah SWT. itu tampak pada tujuh hal. Yaitu
1. Lidahnya. Ia mencegah dari berkata dusta, menggunjing, memfitnah, menipu, dan perkataan yang tidak berguna. Sebaliknya, ia menyibukkan dengan zikir kepada Allah SWT, membaca Al Qur’an, dan menghafal ilmu. Demikianlah orang yang sukses dalam menjalankan puasa Ramadhan. Dalam kesehariannya, sudah tidak tampak lagi kata-kata kotor keluar dari lisannya.
2. Hatinya. Orang yang mukmin dan bertaqwa akan mengeluarkan dari dalam hatinya rasa permusuhan, kedengkian, hasut kepada teman, ujub dan sombong. Sebab hasud dapat menghapus kebaikan, sebagaimana sabda Nabi saw, “Hasut memakan kebaikan seperti api membakar kayu bakar”. Hasut termasuk penyakit berbahaya dalam hati. Penyakit-penyakit hati tidak akan dapat diobati kecuali dengan ilmu dan amal. Orang yang sukses menjalankan ibadah puasa, akan tampak keceriaan dan ketenangan pada wajah mereka, karena mereka berhasil mengenyahkan dengki dan rasa permusuhan dalam hatinya.
3. Pandangannya. Seorang yang sukses dalam ibadah Ramadhan, ia tidak akan lagi memandang sesuatu yang diharamkan. Pandangannya pun tidak ditujukan kepada keduniaan dengan penuh cinta. Sebaliknya, ia akan memandang untuk mengambil hikmah dibalik apa yang ia lihat. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang memenuhi kedua matanya dengan pandangan yang haram, niscaya pada hari kiamat Allah SWT. akan memenuhi kedua matanya dengan api neraka”
4. Perutnya. Orang yang takut kepada Allah tidak akan memasukkan makanan yang haram kedalam perutnya. Sebab hal itu merupakan dosa dan penghalang terkabulnya do’a. Sebagaimana sabda Rosulullah saw “Apabila satu suap makanan yang haram jatuh ke dalam perut anak adam, setiap malaikat di langit dan bumi melaknatnya selama suapan itu berada dalam perutnya. Jika ia mati dalam keadaan itu, tempat kembalinya adalah neraka jahannam.”
Demikian pula cerita yang dikisahkan oleh Abu Hurairah ra. “Seorang laki-laki yang mengadakan perjalanan jauh (untuk ibadah), rambutnya tidak tersisir dan badannya lusuh. Dia menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdo’a “Ya Tuhanku-Ya Tuhanku” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan selalu disuapi dengan barang haram, lalu bagaimana mungkin dia dikabulkan?”
5. Tangannya. Orang yang takut kepada Allah SWT dan sukses menjalan ibadah Ramadhan, tidak akan menjulurkan tangannya untuk sesuatu yang tidak diridloi Allah SWT. sebaliknya ia hanya akan mejulurkan tangannya untuk sesuatu yang mendatangkan ketaatan kepada Allah SWT. Ia menggunakan tanggannya untuk memegang mushaf Al Qur’an, bersedekah, bekerja dan menolong orang lain. Rosululloh saw bersabda “Allah senantiasa akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”, demikian pula sabda beliau “Siapa yang melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari kiamat”
6. Kakinya. Orang yang takut kepada Allah dan sukses menjalankan ibadah Ramadhan, tidak akan melangkahkan kakinya untuk melangkah kepada kemaksiatan, ia hanya melangkahkan kakinya dalam rangka mencari ridlo Allah SWT. Ia melangkah untuk menghadiri jama’ah di masjid, menghadiri majelis ta’lim, melangkah untuk mencari rizki yang halal dan barokah bagi keluarga yang ia cintai.
7. Ketaatannya. Ia menjadikan ketaatannya semata-mata untuk mencari ridlo Allah SWT serta takut akan riya dan kemunafikan. Ketaatannya tidak bertambah jika disaksikan banyak orang, juga tidak berkurang ketika tidak disaksikan seseorang. Tetapi ketaatannya senantiasa ia kerjakan baik ketika disaksikan orang maupun tidak.
Jika ciri-ciri ini terdapat pada diri seorang mukmin, maka bergembiralah ia, karena ia termasuk orang yang dijanjikan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an. “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga (taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan kepada mereka): ‘Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman’. Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya” [Al Hijr: 45-48].
Menghidupkan Malam Ramadhan"Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya). (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur'an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak)." (QS: Al Muzamil 2 - 7)
Surat Al Muzzammil terdiri atas 20 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyah, diturunkan sesudah surat Al Qalam. Al Muzzammil berati orang yang berselimut. Lafadz Al Muzzammil diletakkan pada ayat pertama surat ini. Yang dimaksud dengan orang yang berselimut adalah Nabi Muhammad sholollah alaihi wassalam.
Pokok-pokok isinya adalah petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan oleh Rasulullah sholollah alaihi wassalam untuk menguatkan rohani guna persiapan menerima wahyu, yaitu dengan bangun di malam hari untuk bersembahyang tahajjud, membaca Al Quran dengan tartil; bertasbih dan bertahmid; perintah bersabar terhadap celaan orang-orang yang mendustakan Rasul. Akhirnya kepada umat Islam diperintahkan untuk bersembahyang tahajjud, berjihad di jalan Allah, membaca Al Qur'an, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, membelanjakan harta di jalan Allah dan memohon ampunan kepada Allah Ta'ala.
Di negeri kita telah menjadi tradisi di setiap malam-malam Ramadhan dihidupkan dengan Shalat Tarawih. Shalat Tarawih merupakan amalan sunnah yang mampu membawa dampak perubahan jiwa dan kecerdasan ruhiah jika dilaksanakan sesuai tuntunan Rasulullah. Pada tuntunan yang afdlol, lebih utama adalah laksanakan Shalat Tarawih di sepertiga akhir malam dan atau dimulai tengah malam. Pelaksanaan sholat dilakukan secara khusyu', tuma'ninah dan tawadu'.
Mohon maaf tidak seperti saat ini, di mana Shalat Tarawih dilaksanakan secara cepat, tergesa-gesa, seakan-akan hanya bentuk formalitas saja. Akhirnya jauh dari makna dan tujuan Shalat Tarawih dilaksanakan. Akhir Ramadhan hasil Shalat Tarawih tak dapat dirasakan. Buktikan saja jamaah Shalat Tarawih yang memenuhi masjid dan mushola saat ini, namun setelah usai Ramadhan habis, hilang sehingga yang jamaah Shalat Isya' tidak ada lagi.
Bagi orang-orang yang menghidupkan Ramadhan dengan qiyamul lail disifati oleh Allah Ta'ala "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan" (QS Sajdah 16). Yang dimaksud Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya yaitu mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.
Ayat ini pernah dibacakan oleh Nabi Muhammad di hadapan Muadz, tatkala Muadz bertanya kepada beliau. "Ya Rasululallah beritahukan kepada kami suatu perbuatan yag bisa memasukkan diriku ke surga dan menjauhkan diri kami dari kobaran api neraka," kemudian Rasulullah menjawab dengan sabdanya "Bukankah aku pernah menujukkan kepadamu tentang pintu kebaikkan. Puasa adalah pintu surga. Shodaqoh serta shalat di tengah malam itu bisa memadamkan kesalahan, sebagaimana air mampu memadamkan api. Kemudian Rasululallah membacakan ayat ke 16 surat as Sajdah tersebut.
Mengapa harus menghidupkan malam Ramadhan dengan bersujud dan berdzikir? Ibadah ini merupakan kunci kesuksesan komunikasi seorang hamba dengan Al Kholiqnya. Melalui mediasi sujud dan dzikir akan mendapatkan puncak kehambaan dan ketaqwaan. Hasilnya adalah hamba-hamba penuh syukur, selalu sabar, tawakkal dan penuh optimisme. Sebagaimana dijelaskan Al Baqoroh 45 hasil sujud adalah sabar dan jadi media penolong. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'."
Mengapa saat ini budaya menghidupkan Ramadhan tidak dengan sujud secara khusyu' di sepertiga malam? Fenomena salah kaprah bahwa Shalat Tarawih cukup dilaksanakan seusai Isya' karena masyarakat awam tidak memiliki kesiapan mental untuk menghidupkan sepertiga malam. Ini sebenarnya keberhasilan syaithon dalam memasang perangkap agar umat Islam tidak mengambil keutamaan dalam ibadahnya. Secara umum disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Abu Huroiroh, Rasulullah, bersabda: "Diikat oleh syetan di atas kuduk seseorang kamu. Apabila ia tidur, tiga ikatan. Dan setan itu menali tiap-tiap ikatan padamu sepanjang malam, lalu tertidurlah kamu. Kalau terbangun dan berdzikir kepada Allah Ta'ala, niscahaya terbukalah satu ikatan. Kalau berwudlu maka terbukalah satu ikatan. Dan kalau mengerjakan sholat, maka terlepaslah satu ikatan. Sehingga ia menjadi rajin dan baik jiwanya. Kalau tidak demikian ia akan menjadi keji jiwanya dan malas."
Tidak menghidupkan sepertiga malam dengan sujud dan dzikir berarti syaithon telah berhasil mengikat kita. Ikatan tersebut tidak kita lepas dengan sujud dan dzikir. Akibatnya di siang harinya kita menjadi manusia yang berjiwa keji dan pemalas. Kunci menghilangkan jiwa kering, hati keras, perangai kasar dan perilaku pemalas adalah dengan cara sepertiga malam memperbanyak sujud dan dzikir.
Keutamaan menghidupkan malam dengan sujud dan dzikir sebagaimana dijelaskan dalam hadits mursal, Nabi bersabda, " Dua rokaat yang dikerjakan oleh hamba pada waktu tengah malam adalah lebih baik baginya dari dunia dan isinya". Imam Bukhori dan Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Rasulullah bangun tiap-tiap malam mengerjakan shalat sehingga melelahkan kakinya. Dalam riwayat lain dari Aisyah, bahka kaki Rasulullah bengkak karena menjalankan sujud dan dzikir di sepertiga malam.
Keutamaan ibadah di malam hari dapat meninggikan derajat dan membebaskan api neraka. Melaksanakannya sangat sulit dan terasa berat. Apalagi pada situasi dan kondisi saat ini. Di saat struktur kehidupan telah disibukkan oleh pekerjaan di siang hari yang membutuhkan kosentrasi dan tenaga ekstra.
Bahkan sering dijumpai lembur hingga jam sepuluh malam. Bangun malam untuk ibadah sangat sulit. Karena itulah Rasulullah bersabda dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim "Sebaik-baik shalat setelah shalat fardlu adalah sholat malam". Yaitu qiyamul lail atau tahajut". Bagaimana agar dalam jiwa kita ada kemudahan dalam menghidupkan Ramadhan dengan sujud dan dzikir? Di bawah ini ada kita, semoga bermanfaat untuk kita laksanakan.
Pertama adalah dengan menguatkan tekat, niat dan komunitas. Saat akan tidur berniat agar dapat bangun sepertiga malam dan mampu sujud dan dzikir. Berilah alarm agar ada pengingat. Bentuklah komunitas dalam keluarga tradisi menghidupkan malam dengan sujud dan dzikir.
Kedua, saat Ramadhan ini matikan saja televisi di rumah Anda. Maaf ini harus dilaksanakan karena saat ini kehadiran televisi di rumah kita telah menjadi pengganggu kekhusyu'an ibadah. Tidak sedikit di rumah-rumah muslim saat Ramadhan dihiasi dengan beraneka siaran TV. Saat makan sahur ditemani oleh para pelawak yang cenderung mengeraskan hati. Karena acaranya memikat, maka kita lalai untuk bersujud dan berdzikir. TV telah mengalihkan konsentrasi ibadah ke perkara yang tak berfaedah. Ingin khusyu' dalam sujud dan dzikir, matikan saja TV.
Ketiga, isilah perut Anda sepantasnya saja. Jangan terlalu kenyang. Hilangkan kebiasaan jelek pola makan balas dendam. Maksudnya adalah saat berbuka makan sebanyak-banyaknya karena siang tidak makan, balas dendam karena siang tidak makan. Jika makan tidak terlalu kenyang harus diimbangi dengan minum yang banyak. Memperbanyak air masuk ke perut akan memudahkan bangun sepertiga malam dan tidak menjadikan malas saat bangun sehingga menggiatkan sujud dan dzikir.
Keempat, aturlah keseimbangan hidup di siang harinya. Siang hari tidak terjebak pada rutinitas stress, capek, dan urusan membelenggu yang tidak terselesaikan sehingga menjadi beban. Lepaskan siang saat menjelang tidur. Iringi tidur dengan dzikir permohonan ampun, beratasbih dan tahlil. Berwudlu sebelum tidur. Hal ini juga berarti harus mengatur jam tidur. Harus berani menghindari kebiasaan tidur terlalu malam hanya disibukkan oleh hal-hal tidak berfaedah.
Kesempatan terbaik saat ini melatih diri memanfaatkan malam-malam Ramadhan dengan sujud dan dzikir. Suasana indah Ramadhan akan mampu membawa kekhusyu'an. Dan pembiasaan menghidupkan Ramadhan dengan tahajud berdampak pembiasaan. Pasti berlanjut walau Ramadhan telah berlalu. Di luar Ramadhan pun kita seperti disebut dalam Al Qur'an Surat Al Furqon ayat 64 yaitu hamba yang menghabiskan malam harus dengan bersujud dan berdizkir. "Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka".
Kebahagiaan Ini Janganlah Cepat BerlaluAllahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar Walillahilhamd, demikian gema takbir terdengar mengiringi munculnya mentari kebahagiaan pada setiap insan. Menyeruak di setiap degup jantungnya dan mengalir pada kebeningan mata sebagai tanda kebahagiaan yang tiada tara.
Memang ada kebahagiaan pada orang-orang yang merayakan Idul Fitri, tapi ada pula yang dalam menyambutnya, mereka biasa saja. Yaitu mereka yang selama bulan Ramadhan atau sebagian dengan sengaja tidak berpuasa. Adapun bagi mereka yang berbahagia dalam menyambutnya, bisa jadi karena punya perasaan terbebas dari puasa yang membelenggunya selama bulan Ramadhan, atau karena punya duit banyak dan baju baru untuk menyambutnya. Yaitu mereka yang berpuasa sebulan penuh tapi tidak mendapatkan pahala, karena sering berbuat maksiat.
Namun, ada pula yang berbahagia dengan Idul Fitri karena memang haknya untuk berbahagia sebagai kompensasi ia berpuasa dengan ikhlas mengharap ridloNya selama bulan Ramadhan. Kebahagiaan bagi orang-orang yang seperti itu, biasanya berharap untuk tidak berlalu cepat darinya, mereka menginginkan kebahagiaan tersebut terus ada pada dirinya agar ia dapat meraih kebahagiaan yang lebih abadi, yaitu bertemu Tuhannya.
Inilah yang dijanjikan oleh Allah dalam hadist qudsiNya :"Bagi yang berpuasa, akan dapat dua kebahagiaan yang ia berbahagia dengan keduanya, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka (atau berlebaran) dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Tuhannya (dengan membanggakan puasanya)"(Muttafaq alaih).
Yang dimaksud dengan kebahagiaan bagi seseorang (yang berpuasa) ketika berbuka atau berlebaran, adalah sesuatu yang nyata dan riil. Pada waktu-waktu yang lain diluar Ramadhan, ketika seseorang mendengar takbir adzan Maghrib lebih banyak ia mengabaikannya, bahkan tidak ada perasaan bahagia sedikitpun. Apalagi jika gema takbir adzan Maghrib tersebut mengganggu kesenangannya dengan sesuatu, misal sedang asyik menonoton pertandingan sepak bola, bisa-bisa ia akan mengeluh mendengar adzan Maghrib.
Namun hal itu berbeda bagi orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan, tidak ada kebahagiaan baginya kecuali ketika takbir adzan Maghrib dikumandangkan. Demikian juga dia akan sangat bahagia ketika mendengar takbir 'Idlul Fithri, inilah kebahagiaan yang pertama.
Dan biasanya ciri orang-orang yang bahagia dalam menunggu seseuatu yang disenanginya, adalah suka berkorban demi tercapai keinginannya. Misalnya seseorang ketika akan nonton pertandinngan yang sangat digemarinya, pastilah ia akan melakukan semua hal yang bisa mewujudkan tercapainya kebahagiaan berupa nonton pertandingan, misalnya mencari uang untuk membeli tiket dan sebagainya. Dan juga ketika seorang ibu menjanjikan kepada anaknya sesuatu yang sangat disukainya, maka pastilah sang anak akan melakukan apa saja yang disyaratkan oleh ibunya untuk mendapatkannya.
Demikian pula dengan orang-orang yang berpuasa, agar kebahagiaan bisa dicapai dengan sempurna, maka ia harus melakukan amal sholeh lainnya yang dianjurkan untuk mengisi penantiannya, misalnya membaca Al Qur'an, berdzikir, sholat dan sebagainya.
Hal itu karena Rasulullah menganjurkan bagi orang yang berpuasa ketika menjelang berbuka dan setelahnya untuk melakukan hal-hal yang positif agar bisa mendukung kebahagiaan yang pertama yaitu berbuka dan berlebaran, serta menganjurkan pula untuk tidak melakukan hal-hal yang bisa 'merusak' datangnya kebahagiaan tersebut. Dan diantara yang dianjurkannya adalah memperbanyak dzikir, istighfar, do'a, membaca Al Qur'an dan bersemangat sholat berjama'ah serta bersedekah. Karena menurut Ibn Abbas, Rasulullah SAW adalah manusia yang terbaik melakukan kebajikan di bulan Ramadhan. Dari Ibn Abbas ra., bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan dan beliau paling bermurah hati (pada kebajikan) dalam bulan Ramadhan, yaitu ketika Jibril menemuinya, setiap malam di bulan Ramadhan, Jibril menemuinya untuk mengajar Al Qur'an, Rasulullah adalah pribadi yang sangat mulia, bahkan lebih mulia daripada angin (yang mengandung hujan yang dikirim Allah) untuk mendatangkan kebaikan (H.R Bukhori).
Demikian juga beliau melarang melakukan hal-hal yang merusak pahala puasa, sehingga tidak bisa menggapai kebahagiaan yang pertama tersebut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW bersabda: "Puasa adalah perisai. Maka orang yang berpuasa janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh…"(Bukhori).
Demikian juga dalam riwayat yang lain, Rasulullah SAW bersabda: "Siapapun yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tindakan jahat (pada bulan Ramadhan), Allah tidak membutuhkan puasanya"(Bukhori).
Dengan demikian kebahagiaan yang sempurna ketika berbuka dan berlebaran, hanya bisa dicapai oleh orang yang berpuasa dengan jalan memperbanyak kebajikan dan menjauhi perilaku-perilaku jahat selama masa penantiannya (yaitu ketika berpuasa).
Kebahagiaan setelah itu atau kebahagiaan kedua adalah kebahagiaan seorang yang berpuasa ketika bertemu dengan Tuhannya seraya membanggakan hasil puasanya kelak di akhirat. Inilah kebahagiaan yang abadi, kebahagiaan yang diharapkan oleh semua makhluk di alam semesta ini. Dan saat sekarang kebahagiaan abadi ini hanya bisa dirasakan dan digambarkan lewat kebahagiaan yang pertama tersebut yaitu kebahagiaan seorang yang yang berpuasa ketika mendengar takbir adzan maghrib dan takbir Idul Fitri.
Oleh karena itulah, agar kebahagiaan-kebahagiaan ini bagi yang berpuasa tidak cepat-cepat berlalu darinya, sehingga tidak hanya sekedar bahagia di malam takbiran Idul Fitri dan setelah itu terjerembab kembali dalam dusta-dusta cinta duniawi yang menyeretnya berbuat maksiat kembali. Maka para alumni Ramadhan harus bisa tetap menjaga hubungan romantisnya dengan Allah SWT, sebagaimana pernah dilakukan di Ramadhan.
Tetaplah mengukir kenangan manis dari romantika tersebut, dengan menjaga kekhusyukan sholatnya, keistiqomahan dalam berdzikir, beristighfar dan membaca Al Qur'an serta selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang mengundang murka Allah SWT di bulan-bulan setelah romadlon. Dan apabila hal ini tetap bisa dilakukan pasca Rsmadhan, Insya Allah kemesraan dan kebahagiaan tidak akan cepat berlalu dari diri alumni Ramadhan.Wallhu A'lam
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk Al Kayyis